ALLAH TIDAK MINTA KESEMPURNAAN

ALLAH TIDAK MINTA KESEMPURNAAN

Ada pemikiran fatalistik yang berkembang di masyarakat dalam konteks pendidikan. Mungkin di antara kita pun ada yang pernah merasakan ditekan orang tuanya karena masalah peringkat di sekolah dengan ungkapan, “Lalu buat kami mengirimmu untuk bersekolah?” “Apa gunanya jadi peringkat kedua?”

Banyak anak yang tumbuh dengan budaya seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka baru berguna hanya jika menjadi yang terbaik. Jika tidak jadi yang terbaik, maka mereka tidak berguna. Banyak orang yang tidak bisa lepas dari cara berpikir ini hingga dewasa dan mengalami depresi.

Depresi ini kemudian tidak hanya berpengaruh dalam konteks pendidikan saja. Namun berpengaruh juga kepada kepribadian mereka, misalnya terhadap akan jadi orang tua seperti apa mereka, akan jadi suami atau istri seperti apa mereka, bahkan bisa juga berpengaruh pada kehidupan beragama mereka.

Mereka akan bertanya kepada diri mereka, “Kalau saya bukan orang yang terbaik imannya, apa gunanya beribadah?” Mereka akan putus asa untuk beribadah, termasuk salat. Kita pun sering mendengar alasan mengherankan. “Saya kan bukan manusia sempurna, saya tidak bisa menjalankan semua ajaran agama ini!”

Cara berpikir seperti akan hancur hanya dengan satu kata, “ahsanu amala” (QS, Al Mulk ayat 2). Ada beberapa terjemahan ayat “Ayyukum ahsanu ‘amalaa” ini dengan “siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” Terjemahan ini kurang tepat. Yang lebih tepat adalah “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ahsanu adalah “Ism Tafdhiil lil Muqooronah” yang tujuannya untuk perbandingan. Kata Ahsanu bukan “Af’alu Tafdhiil” karena “Mudhoof”. Kata Ahsanu di sini juga tidak menggunakan “Alim Laam Ta’riif”.

Jika disebut, “Al-ahsanu ‘amalaa” seperti pada, “Bil-alkhsariina ‘amaalaa” maka baru bermakna paling (superlatif) sehingga artinya adalah terbaik. Jika tidak ada “alif Laam Ta’riif”, maka maknanya adalah perbandingan (komparatif) sehingga artinya adalah lebih baik.

Perbedaan penerjemahan ini membawa konsekuensi serius mengenai apa yang Allah inginkan atas kita. Sebab ada perbedaan antara “lebih baik” dan “terbaik“. Hanya mungkin ada satu saja yang terbaik, tidak mungkin ada dua orang yang terbaik. Sebab “Terbaik” berarti nomor satu. Padahal selalu akan ada orang yang lebih baik daripada kita.

Dari sisi individu saja kita tidak bisa mengatakan, “Akhirnya, saya menjadi yang terbaik yang saya bisa.” Karena mungkin besok kita bisa melakukan yang lebih baik lagi. Yang tepat kita katakan adalah, “Alhamdulillah, hari ini saya bekerja lebih baik.”

Kalau kita bandingkan antarindividu, setiap orang berbeda ketika melakukan yang lebih baik. Ada yang melakukan lebih baik secara perlahan, yang lain bisa dengan cepat.

Sebagian ada yang bersedia memberi semua harta mereka demi Allah, sebagian orang lain hanya dapat memberi satu persen apa yang mereka miliki, dan itu tetap lebih baik daripada tidak ada. Tidak masalah.

Semua orang membuat kemajuan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ini adalah hal yang indah dan rahmat yang Allah tetapkan dalam agama ini bahwa Allah tidak meminta kesempurnaan, tetapi perbaikan. Bukan melihat siapa yang terbaik, tetapi melihat siapa yang mengambil langkah untuk memperbaiki diri. [IHM]

Disadur dari penjelasan ustadz Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *