Sibuk Membangun Dunia Lupa Membangun Akhirat

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang kakak senior di daerah Qatamea. Daerah ini masih terbilang pemukiman baru. Sepanjang jalan yang saya lewati terlihat para kuli bangunan tengah sibuk mengerjakan pembangunan gedung. Gambar–gambar model gedung yang akan dibangun begitu beragam dan memukau. Saya terkagum dengan berbagai model arsitekturnya.

Saya kemudian berpikir, berapa banyak waktu yang telah dihabiskan oleh para pekerja tersebut. Berapa banyak biaya yang telah dikeluarkan, berapa banyak tenaga yang telah dikuras, dan berapa banyak pikiran yang telah diperas. Dan kalau secara tiba-tiba terjadi kebakaran, gempa kuat, dan gejala alam lainnya, tentunya gedung yang telah dibangun dalam waktu yang cukup lama dan dengan biaya yang tidak sedikit itu dalam hitungan detik akan langsung ambruk.

Betapa kehidupan dunia ini hanya tipuan, betapa keindahannya tidak kekal, dan betapa kesenangannya hanya sebentar. Tapi, kenapa orang-orang masih tetap bekerja keras hanya untuk dunia ini. Apakah mereka lupa bahwa suatu saat apa yang mereka bangun tidak akan mereka tempati selamanya, apa yang mereka kumpulkan tidak akan mereka nikmati selamanya, dan apa yang mereka cintai akan mereka tinggalkan dan suatu saat nanti mereka akan mati.

Sungguh mengherankan tingkah orang-orang yang meyakini bahwa sorga itu ada, bagaimana mereka sampai lalai untuk meraihnya. Dan sungguh mengherankan orang-orang yang takut dari neraka, mereka tidak menjauhkan diri dari perkara-perkara yang akan memasukkan mereka ke dalamnya.

Dunia memang sering kali membuat manusia tertipu dengan kemegahannya. Sedangkan ia pada hakikatnya tidak lebih bernilai disisi Allah Swt. dibanding satu sayap nyamuk. Hanya orang-orang yang paham akan hakikat dunia dan hakikat akhirat yang selalu tepat menjalani kehidupan ini.

Manusia akhirat adalah pekerja keras untuk membangun istana-istana megah di akhirat. Segala perbekalan akan ia kumpulkan untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal.

Ibarat mereka yang menjadi tenaga kerja di luar negri. Orang yang bijak dari mereka tidak akan menghamburkan uang gaji yang telah diperoleh untuk hal yang sia-sia. Hasil dari jerih payah tersebut akan ia kumpulkan untuk bekal pulang ke negeri asalnya. Karena ia sadar keberadaannya di rantau orang tidak akan selamanya, suatu saat ia harus pulang sesuai batas waktu yang telah ditetapkan untuknya.

Adapun orang-orang yang berfikir pendek dari mereka lebih memilih kesenangan sesaat. Waktu mereka telah dihabiskan, tenaga telah banyak dikuras, pikiran telah diperas. Dan mereka ingin langsung menikmati hasil kerja keras itu. Sehingga ketika batas waktu telah habis, waktu pulang ke negeri asal telah tiba, mereka tidak punya perbekalan untuk dibawa ke kampung halaman. Tidak ada yang bisa mereka berikan untuk keluarga dan sanak saudara. Semuanya telah mereka habiskan selama di negeri orang.

Begitulah lebih kurang perumpamaan orang-orang yang cerdas dan bodoh. Sehingga Rasulllah Saw. sendiri telah menegaskan bahwa, “Orang cerdas itu adalah dia yang selalu menghisab dirinya dan beramal untuk sesudah kematian, adapun mereka yang lemah [jiwa dan akal] adalah mereka yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan suka berangan-angan pada Allah Swt.”

Dan sekarang kembali pada diri kita, kita ingin tergolong kemana diantara keduanya.
Apakah kita akan menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan harta kita untuk kesenangan yang sesaat? Ataukah kita memilih untuk bersabar dan mengutamakan kenikmatan yang kekal di akhirat kelak?

Dalam sebuah hadits yang sudah sering kita dengar yang diriwayatkan oleh Abu Barzah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam a.s. pada hari kiamat sebelum ditanya tentang empat perkara: Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana di peroleh dan kemana dibelanjakan, dan ilmunya apa yang diamalkannya.” (HR. Tirmidzi )

Bekerja di dunia memang tidak salah, yang salah adalah ketika menjadikan dunia tujuan sehingga lupa pada akhirat. Yang terbaik adalah bekerjalah di dunia untuk persiapan bekal di akhirat kelak. Bangunlah gedung-gedung sebagai sarana untuk ibadah, amal soleh, dan segala bentuk ketaatan, serta kebaikan yang diridhai Allah Swt. sehingga waktu yang terpakai, pikiran yang diperas, tenaga yang terkuras, dan biaya yang telah dikeluarkan tidak sia-sia, tapi mendapat balasan yang setimpal di akhirat kelak. Wallâhu a`lam.

Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.

Salam dari Kairo, 
marif_assalman@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *